Survei BNPT: Risiko Terorisme dan Radikalisme 2022 Menurun

Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar

bacakita.id, JAKARTA | Survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membuktikan, partisipasi aktif masyarakat memberi pengaruh positif terhadap penanggulangan terorisme di Indonesia. Hal ini dilihat dari Indeks Risiko dan Indeks Potensi Radikalisme (IPR) dan Terorisme di 2022 yang mengalami penurunan.

Survei tersebut dilakukan BNPT yang bekerja sama dengan sejumlah lembaga. Di antaranya Forum kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Puslitbang Kemenag, Kajian Terorisme UI, BRIN, The Nusa Institute, dan sebagainya.

Bacaan Lainnya

Kepala BNPT Komjen Pol. Boy Rafli Amar mengungkapkan itu dalam pernyataan pers akhir tahun BNPT, di Jakarta, Rabu (28/12/2022). Menurut Boy, IPR tahun 2022 turun 2,2 persen menjadi 10 persen dibanding tahun 2020 yang mencapai 12,2 persen.

Baca Juga  Presiden Jokowi Terima Aliansi Penyelenggara Pendidikan Indonesia

Survei IPR, tambahnya, menunjukkan bahwa target penurunan potensi radikalisme dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJMN) 2020-2024 berhasil dilampaui. “IRT terdiri dari dimensi target dan dimensi supply pelaku. Dan kedua dimensi itu melampaui target RPJMN,” ujar Boy.

Ia menjelaskan, pada 2022 indeks dimensi target sebesar 51,54. Angka ini lebih rendah dari yang ditetapkan RPJMN sebesar 54,26.

Sedangkan indeks dimensi supply pelaku adalah 29,48. Angka inj juga lebih rendah dari target RPJMN yaitu 38,00.

Baca Juga  6 Penimbun 390 Ton Solar Bersubsidi Ditangkap

“Semakin kecil angka indeks itu, maka resiko terorisme menjadi semakin rendah,” ucap Boy. “Indeks tersebut menunjukan kesiapan masyarakat dalam menghadapi paham maupun aksi terorisme.”

Meski demikian, imbuhnya, survei IPR ini juga menemukan bahwa potensi radikalisme terjadi pada wanita, dan anak-anak lebih tinggi. “Juga mereka yang aktif di internet,” katanya.

Boy pun menyoroti fenomena radikalisme di dunia maya yang semakin meningkat, seiring dengan masifnya penggunaan internet. BNPT menemukan lebih dari 600 situs/akun diberbagai platform yang bermuatan unsur radikal, yang menyebarkan 900 konten propaganda.

Baca Juga  Tak Lama Kloter 1 Berangkat, Kloter 2 Masuk Embarkasi Palembang

“Terhadap ancaman terorisme di dalam ruang siber itu BNPT sudah bekerja sama dengan instansi terkait,” ujarnya. “Kita lakukan upaya pencegahan melalui patroli siber, takedown dan penegakan hukum.”

Ia menjelaskan, selama 2022, BNPT sudah melakukan upaya deradikalisasi terhadap 475 narapidana terorisme yang tersebar di 63 Lapas. Sedangkan di luar Lapas, ada 1.192 orang atau kelompok dan mantan napi teroris yang dideradikalisasi.

“Ini menunjukan bahwa negara tidak diam dalam menghadapi radikalisme dan aksi terorisme. Negara terus bergerak dan berupaya mengatasi masalah ini,” pungkas dia. (Fit)

Pos terkait

banner 468x60