Covid-19 Meningkat di Tiongkok, WNI Kesulitan Cari Sembako

Petugas keamanan dengan pakaian pelindung berdiri di gerbang kompleks perumahan yang dikunci saat pandemi Covid-19 berlanjut di Beijing, 22 Oktober 2022. (Foto: REUTERS)
Petugas keamanan dengan pakaian pelindung berdiri di gerbang kompleks perumahan yang dikunci saat pandemi Covid-19 berlanjut di Beijing, 22 Oktober 2022. (Foto: REUTERS)

bacakita.id, SHANGHAI | Warga Negara Indonesia (WNI) di Shanghai terdampak tingginya kasus Covid-19 di Tiongkok. Salah satunya kesulitan untuk beraktivitas keluar rumah, terutama untuk mendapatkan sembako.

“Kondisi sekarang itu seperti waktu Lockdown, jadi sepi dan banyak toko yang tutup. Kegiatan-kegiatan semuanya berhenti, toko buka jam 9 pagi dan tutup jam 6 sore,” kata Houdy.

Bacaan Lainnya

Pemerintah Kota Shanghai bahkan menyarankan warganya untuk tidak keluar rumah di akhir pekan ini.

Baca Juga  Dunia Kepemiluan Bakal Berbasis Teknologi, Puadi Minta Pengawas Pemilu Mampu Kuasai

“Hari Sabtu kemarin, Pemerintah lokal Shanghai mengarahkan warga untuk tidak keluar. Anjuran ini diikuti oleh masyarakat Shanghai, Subway biasanya penuh sekarang sepi,” ungkapnya.

Menurut Houdy, dengan kondisi tersebut dirinya kesulitan mendapatkan sembako. “Itu karena tidak ada yang mengantar sembako secara online, atau barangnya tidak tersedia,” terangnya.

Di sisi lain, lanjut dia, kasus Covid-19 merata di sejumlah provinsi di Tiongkok. “Terutama di kota-kota besar yang banyak pekerjanya,” imbuh dia.

Ia pun mengaku merasa takut untuk keluar rumah menyusul tingginya kasus Covid-19 di negara tersebut. “Kebanyakan warga di sini takut keluar rumah, dan yang sakit diam di rumah,” ujarnya.

Baca Juga  Indonesia Angkat Enam Isu di Sidang Majelis Umum PBB

Menurut Houdy, pemerintah Tiongkok menyarankan kepada warganya untuk tetap di rumah saja untuk karantina mandiri jika terpapar Covid-19. “Biasanya kalau kita pergi ke rumah sakit, maka dokter menyuruh kita karantina di rumah saja. Mereka tidak mau memberi pertolongan, kecuali kepada lansia yang belum divaksin,” jelas dia.

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mencatat sebanyak 250 juta penduduk di Tiongkok diduga terinfeksi Covid-19 selama Desember 2022. Houdy menduga tingginya kasus Covid-19 ini karena pelonggaran yang dilakukan Pemerintah Tiongkok beberapa waktu lalu. “Banyak orang yang sakit keluar rumah, makanya kasus langsung naik,” terang dia.

Baca Juga  SKK Migas – KKKS Harpindo Tancap Gas Incar Cadangan Migas

Tingginya kasus Covid-19 di Tiongkok berdampak pada roda ekonomi, terutama untuk keberlangsungan usaha. Terkait hal itu, kata Houdy, Pemerintah Tiongkok masih menjajaki untuk memberikan keringanan pajak kepada masyarakat. “Kalau dulu pada waktu Lockdown, Pemerintah Tiongkok sempat meringankan pajak,” terangnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan perayaan Natal di Tiongkok tidak semeriah pada tahun sebelumnya.

“Itu karena lonjakan kasus Covid-19 pada tahun ini,” pungkas dia. (Fit)

Pos terkait

banner 468x60