Wapres Ma’ruf Kutuk-Protes Keras Pembakaran Al-Qur’an

Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin
Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin

bacakita.id, JAKARTA | Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin angkat suara perihal aksi pembakaran Al-Qur’an yang terjadi di Swedia pada akhir pekan lalu yang diikuti aksi perobekan salinan Al-Qur’an di Belanda, Minggu (23/01/2023) waktu setempat.

Menurut Kiai Ma’ruf, pemerintah Indonesia saat ini telah mengambil sikap tidak hanya mengutuk keras, tetapi juga berupaya meredam potensi konflik yang lebih luas akibat aksi tersebut.

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Zulhijah pada 29 Juni 2022

Ini pemerintah sudah membuat nota diplomatik protes tentang peristiwa ini dan telah memanggil duta besarnya,” ujarnya saat memberikan keterangan pers usai meresmikan Pra Kongres Kebudayaan Minahasa di Gedung IASTH, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya Nomor 4, Jakarta Pusat, Kamis (26/01/2023).

Wapres menegaskan bahwa aksi pembakaran dan perobekan Al-Qur’an bukan merupakan bentuk kebebasan berekspresi karena tidak mengindahkan hak orang lain. Terlebih, sambungnya, tindakan tersebut dapat memicu konflik dan merusak toleransi beragama di berbagai negara.

Kiai Ma’ruf pun menekankan bahwa untuk menjaga kerukunan antarumat beragama perlu penerapan teologi kerukunan dan menjauhi narasi konflik.

Baca Juga  Taliban Kutuk Serangan Drone AS Bunuh Pentolan Al Qaeda di Afghanistan

“Teologi kerukunan itu narasi-narasinya juga tidak boleh dalam menyampaikan paham keagamaannya itu kemudian menimbulkan konflik,” tuturnya.

Menurut dia, jangankan tindakan membakar dan menyobek Al-Qur’an, ucapan saja memiliki potensi membawa permusuhan.

“Apalagi itu tindakan, ucapan pun sebenarnya harus dijaga. Itulah yang tadi saya bilang teologi kerukunan,” tegasnya.

Untuk itu, pada kesempatan ini Kiai Ma’ruf berpesan agar tindakan penodaan agama dalam bentuk apapun dan di manapun harus dicegah, termasuk dengan pemberian sanksi bagi para pelakunya.

“Di negara kita, alhamdulillah kita sudah bisa selalu menjaga yang disebut sebagai penodaan agama. Oleh karena itu, bagi kita, kita cegah penodaan agama itu, harus kita beri sanksi, supaya tidak terjadi dan menimbulkan konflik,” pesannya.

Baca Juga  Jokowi Terima Kunjungan Resmi PM Papua Nugini

Indonesia sendiri, kata dia, selama ini dikenal sebagai negara yang paling toleran di dunia. Sehingga, Kiai Ma’ruf mengharapkan apa yang terjadi di Swedia dan Belanda tidak berpengaruh terhadap toleransi kehidupan beragama di tanah air.

“Artinya kita sebagai bangsa sudah punya landasannya, sudah punya semangat, sudah punya karakter yang kita bina selama ini sebagai bangsa yang toleran. Jadi jangan sampai ada unsur-unsur intoleran itu masuk di sini,” pungkasnya.

Pos terkait

banner 468x60